All About Ornamental Plants

Tampilkan postingan dengan label Ornamental Plant News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ornamental Plant News. Tampilkan semua postingan

Decades of dahlias: One gardener's obsession

by Kym Pokorny, The Oregonian

Dahlias come in all sizes, including the giant 'Pearson's Pride.'

Bob Bloomfield explains his devotion to dahlias simply: "They're beautiful."

There's no arguing that. Intricate swirls of petals arrange themselves in so many designs it takes 19 categories to classify them, those further divvied up into size and color. Don't think that intimidates Bloomfield. At 92, he's handled thousands of dahlias, won hundreds of ribbons and come up with about a dozen of his own varieties, several named after his wife, Myrtle, who is 93.

Myrtle Bloomfield followed her husband, Bob, into the world of dahlias. Otherwise, she says, "I'd be a widow."

Portland Dahlia Society Annual Auction and Sale

When: 6:30 p.m. Tuesday,
April 14
Where: Rose City Park United Methodist Church, 5830 N.E. Alameda St.
Information: Portland Dahlia Society, portlanddahlia.com; Teresa Bergman, 360-274-8292; Jeanette Benson, 503-649-4118

For most of the year, the two nonagenarians spend part of every day grubbing about in the garden, sharing the joy with people who are lucky enough to be neighbors or friends.

"People stop in to pick dahlias," says Myrtle, the creases around her eyes fanning out in a sweet smile. "We leave baskets of vegetables for people to take."

Larry Smith, a neighbor and immediate past president of the Portland Dahlia Society, testifies to the couple's generosity. He is, after all, one of the beneficiaries. Smith, who rides his bike more than he drives his car, was pedaling past the Bloomfields' house in Southeast Portland in the early '90s and noticed the dahlias.

"I sucked him in good," says Bob, his smile just as committed as his wife's.

Smith laughs. "Dahlia growers are junkies," he says. "Those who've been around awhile are pushers."

'Christmas Star'
'Glenbank Twinkle'

Not that it took much to entice Smith into a healthy dahlia addiction. He'd been entering vegetables into state and county fairs since 1962, when he was 11, and has more than 500 ribbons to his credit.

"I haven't missed a year at the fairs," he says, deservedly proud.

And though he doesn't do it for the dough, the winnings -- $350 at one fair -- help feed his habit. "It pays for fertilizer, tubers, other things."

'April Dawn'
'Spartacus'

Still, he's an amateur compared with Bob, who started growing dahlias in 1953, joined the dahlia society in 1956 and soon became a daunting foe in competitions.

"That was in the old days when they judged in black suits. They looked like pallbearers," says Bob, who also remembers buying tubers from the Netherlands for 12 to 13 cents apiece.

Good thing, too, since by 1963, 1,000 dahlias grew in the Bloomfields' backyard. More than you'd imagine ended up in competition.

"One time I rented a U-Haul to bring them all to the show," he says without embarrassment. "I'm still the laughingstock in the dahlia society."

Hardly. His accomplishments, including a stint as president in the '60s, earned him the American Dahlia Society Gold Medal 10 years ago, an honor Smith calls "the lifetime achievement in dahliadom."

"Every year Bob says, 'Nope, I'm out of it,'" Smith says. But Bob keeps on. Last year, with Myrtle's help, he raised 100 dahlias, their beauty just as irresistible as they were 56 years ago.

-- Kym Pokorny; kympokorny@news.oregonian.com

'Bishop of Llandaff'
'Pam Howden'

TIPS FOR GROWING DAHLIAS

Dahlia tubers

• Plant tubers when soil temperature reaches 60 degrees. (Use a simple, inexpensive soil thermometer available at garden centers and home improvement stores). Generally, in low-lying areas in the Willamette Valley, this means early to mid-May, two to three weeks later at higher elevations.

• Annually add organic material such as well-aged compost to the soil.

• Add a handful of bone meal or blood meal to the planting hole.

• For stronger, more compact plants, pinch back to the terminal shoot when they get about a foot tall. At the same time, feed with a 5-10-10 fertilizer. Thereafter, use a liquid fertilizer once a month.

• Snip off dead blooms to keep plants flowering.

• Dig up tubers after plants die back or any time after they have been in the ground for at least 120 days. Store in vermiculite or cedar shavings.

• If you prefer to leave them in the ground, cut stalks back to 2 inches above ground level and insulate with compost or straw to prevent possible freezing of tubers

• Instead of mulch, Larry Smith covers cut-back stalks with a plastic grocery bag and holds it in place with a rubber band. Spread out the remainder of the bag around stalks, and anchor with soil or compost. Other options include foil or a tin can. These methods prevent rotting as well as freezing.

• For more extensive information, go to Swan Island Dahlias at dahlias.com or the Portland Dahlia Society at portlanddahlia.com.



SOURCES

• Swan Island Dahlias, Canby; dahlias.com, 503-266-7711, 800-410-6540; garden open Aug. 29-31 and Sept. 5-7

• Frey's Dahlias, Turner; freysdahlias.com, 503-743-3910, 866-878-7151; garden open mid-August to mid-October

• Cowlitz River Dahlias, Castle Rock, Wash.; dahlias4u.com, 360-274-8292 (information only); garden open mid-August to mid-October

Read More

Penjing: Leluhur Seni Bonsai

Seri bonsai sebenarnya tak berasal dari Jepang melainkan Cina. Benarkah demikian? PENDAPAT YANG SANGAT BERALASAN DAN TELAH BANYAK DIAKUI OLEH PARA SENIMAN BONSAI DUNIA. Istilah bonsai sendiri memang merupakan serapan dari dua kata bahasa mandarin Pen-Zai yang bermakna pohon dalam wadah alias pot. Sebelum beken sebagai bonsai, dalam bahasa Jepang, tanaman kerdil dalam pot itu disebut hachi-no-ki. Seni yang oleh khalayak dikenal sebagai seni mengerdilkan tanaman.


Seni serupa sudah lebih dulu berkembang di Tiongkok. Dike- nal dengan sebutan Penjing (Pinying). Pen berarti pot alias wadah dan Jing memiliki makna panorama. "Jadi sebenarnya terbalik kalau belakangan ada yang justru memasukkan penjing sebagai bagian dari seni bonsai" ungkap Robert Steven, seniman Jakarta Pusat.

LEBIH PUITIS
Penjing bukanlah sekadar pemandangan dalam pot yang dikagumi karena keindahannya saja. Tujuan utama dari para seniman penjing adalah menangkap esensi dan roh objek yang bakal dibikin miniaturnya. Tidak hanya mengambil objek langsung dari alam. Inspirasi bahkan bisa juga berasal dari puisi tentang alam dan juga lukisan pemandangan alam.

Saat ini seni membuat miniatur tanaman anal Tiongkok ini seringkali dipisahkan secara tegas dari bonsai. Miniatur lanskap dalam pot alias berwujud pemandangan clam atau dominasi bebatuan disebut penjing. Sementara miniatur yang didominasi pohon baik tunggal maupun grouping cenderung disebut bonsai. "Sebenarnya sama, yang berbeda hanya nuansanya saja. Penjing atau bonsai Cina cenderung lebih puitis," ungkap Robert.

Seni yang berkembang sejak zaman Dinasti Tang itu memang mengenal paling tidak tiga variasi kategori. Kategori pertama adalah shumu penjing alias penjing pohon yang menempatkan pohon sebagai tokoh utama.

Kategori kedua, shanshui penjing alias penjing lanskap yang menonjolkan figur bebatuan sebagai elemen utama dan dominan. Sementara kategori ketiga adalah shuihan penjing alias penjing air dan tanah yang menggabungkan unsur panorama daratan dan perairan. Semisal mengambil bentuk miniatur dari suatu pemandangan alam di tepi sungai atau danau.


TEKS: RUDI
FOTO: DOK. ROBERT STEVEN
Read More

Sikads: Berkarakter kuat. Tropis hingga Minimalis

Bisa ditanam dalam pot, bisa juga di taman. Cocok untuk beragam gaya taman populer. Penampilan sikas, ence, zamia, dan dioon sangat unik dan eksotis. Sosok pohonnya gagah dengan karakter sangat kuat. Masih tersisa tampang tanaman purba dari masa jura (Jurassic). Dengan bukti ditemukannya fosil yang tak jauh berbeda morfologinya. Hal itulah yang membuat para pecinta tanaman eksotis menyukai dan memburunya. Kolektor tanaman sikads umumnya sangat fanatik dan jarang berpaling. Anggota ordo sikads (Cycadates) ini biasa menggunakannya untuk pot plant maupun landscape.


Sebagai tanaman tropis, pohon eksotis ini cocok digunakan untuk taman bergaya tropical sampai jungle. Bisa juga untuk taman kering gaya mediteranian hingga dipadukan dengan hard material membentuk taman modern minimatis. Tampang dan sosok yang kokoh dan besar sangat cocok dihadirkan sebagai daya tarik utama. Baik menjadi point of interest maupun menjadi focal point.

Variasi rupa tanaman cukup besar, bahkan dalam satu genus. Sikas dan ence memiliki daun abu-abu sampai biru memikat.Tajuknya juga beragam, ada yang lurus, meliuk, tinggi sampai kuntet. Bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan, selera dan tentunya ketersediaan dana. Sebagian sikads masih menjadi tanaman eksklusif dan harganya mahal. Kehadirannya Bering untuk menaikkan gengsi si empunya.

Rata-rata sikads lambat pertumbuhannya, baik daun maupun pembesaran batang.Tetapi diimbangi dengan tingkat keawetan daun yang prima. Dedaunan yang keras dan tebal memang tak akan cepat mengering dan juga tidak mudah rontok. Sehingga tidak mengotori lokasi sekitarnya.


Satu Senti Jutaan Rupiah

Karakter tumbuh sikads membuat pembudidayaannya tidak bisa cepat. Ini membuat harganya tinggi. Apalagi untuk jenis yang tergolong jarang dan masuk kategori tanaman koleksi. Cara menaksir harga agak unik, diameter bonggot jadi patokan. Semakin besar diameter, harganya akan bertambah mahal. Setiap senti bonggol Cycas revolute, misalnya, bisa dihargai kurang dari Rp 10.000.

Sementara Encephatartos lebih mahal. E. ferox misalnya, bisa dibandroL seharga Rp 150.000
- Rp 200.000/cm bonggol. Bahkan E. latrivons bisa dipatok harga lebih dari Rp. 3 juta/cm bonggol. Dioon juga memberlakukan tatacara jual beli serupa. Sementara Zamia tak lagi dihargai berdasar ukuran bonggol. Karena jumlahnya cukup banyak. Keunikan bentuk menjadi patokan harga.

Ada lagi tambahan "aturan dagang" sikads di Tanah Air. Warna biru lebih disukai para pecinta tanaman di Indonesia. Semakin biru warna daun, harganya akan semakin melambung!


Mengenal Sikads
Sikads (Cycads) adalah sebutan umum untuk tanaman dari ordo Cycadales. Sementara Sikas (Cycas) merupakan salah satu dari sekitar 12 genus anggotanya. Juga meliputi genus lain, seperti Encephalartos, Dioon, Zamia, Ceratozamia, Microcycas, Strangeria, Bowenia, Lepidozamia, dan Macrozamia. Total spesiesnya metebihi angka 300, tersebar di Benua Amerika, Asia, Afrika, dan Australia. Paling tidak ada empat spesies menjadi tanaman hias, baik potp(ant maupun landscape yang cukup beken di Indonesia.

Tanaman sikads punya karakter khas, susunan daun meLingkar membentuk mahkota di ujung atas batangnya yang kokoh. Berdaun majemuk berupa tangkai daun, disebut pelepah, terdiri dari banyak helai daun yang tersusun menyerupai format bulu unggas. Helaian daun masing-masing genus punya karakter berbedabeda. Karakter itu hampir serupa sehingga sikads seringkali disamakan dengan palem dan pakupakuan alias pakis (fern).Tak mengherankan kalau sikas Bering disebut sebagai Palem Sagu dan Pakis Haji. Bahkan nama sikas juga diambil dari kata "Kykas" yang dalam bahasa Yunani bermakna pohon palem.


Kemana Berburu?
• Santi Nursery dan wan Hendrayanta Nursery, Flora Alam Sutera Serpong,Tangerang.
• Aneka Flora, Bursa Tanaman Hias BSD City, Serpong.
• Wijaya Nursery, Jln. Anggrek, Citeureup, Bogor.
• Oasis Sentul Nursery, Sentul, Bogor.
• Godongijo Nursery, Serua, Sawangan.
• Istana Alam Nursery, Serua, Sawangan.
• Taman Anggrek Ragunan, Jakarta Timur.

Cara Menanam
Sikas, Ence, Dioon, Zamia, dan kawan-kawan menyukai media tumbuh yang keying, porus, dan mudah tiris. Gunakan campuran media, terutama saat ditanam dalam pot. Saat ditanam langsung di tanah, sebaiknya tanahnya diaduk dulu dengan bahan lain. Bisa menggunakan campuran pasir malang, arang sekam dan pupuk kandang dengan komposisi seimbang.
Adonan sekam bakar, pasir dan cocopeat dengan perbandingan 2:1:1,juga bisa digunakan. Boleh juga menggunakan bahan pasir malang, sekam bakar, akar pakis, dan pupuk kandang (komposisi 2:1:1:1). Atau, campuran tanah merah, pasir dan pupuk kandang dengan komposisi setara. Media tanam disesuaikan dengan lokasi. Jika curah hujan tinggi, sebaiknya menggunakan campuran media dengan porositas tinggi.


Teks: Rudi Foto: Rohedi/Rudi

Read More

Juara-juara Kontes Puring Wiladatika Cibubur.


Komunitas Puring Indonesia bekerjasama dengan majalah pertanian Trubus telah menyelenggarakan Kontes Puring yang berlangsung pada tanggal : 08 Maret 2009 di Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur. Dari hampir 40 tanaman berbagai jenis puring, dewan Juri yang terdiri dari Herry Syaifudin (Gonku Nursery), Syah Angkasa (Trubus) dan Zulfikar (Komunitas Puring Indonesia) memutuskan Puring Concord dan Puring Angel Wing, keduanya milik Niki Sae Ciawi masing-masing juara I di kelas Medium (75-100cm) dan kelas Small (50-75cm).

Pemenang selengkapnya sebagai berikut:
Kelas Medium (75-100cm):



Juara I - Puring Concord
Owner : Niki Sae - Ciawi, Bogor

Juara II - Puring Concord
Owner : Niki Sae - Ciawi, Bogor


Puring Concord Kuning
Owner : Denok Flora - Sawangan, Depok


Kelas Small (50-75cm):

Juara I - Puring Angel Wing
Owner : Niki Sae - Ciawi, Bogor
Juara II - Puring Red Indiana
Owner : Niki Sae - Ciawi, Bogor

Juara III - Puring Anting Merah
Owner : Nurdin - Sawangan, Depok
Dewan Juri: Syah Angkasa, Zulfikar, Herry Syaifudin
Read More

Pangkas & Potes Pucuk Syzygium

Tanaman ini menarik lantaran memiliki ujung daun muda berwarna merah. Karenanya ia juga dijuluki si Pucuk Merah. Agar tunas mudanya bisa selalu tumbuh, Syzygium harus rajin dipotes dan dipangkas. Menurut Fathul Maki dari Istana Alam Dewi Tara Nursery, pemotesan bertujuan agar tajuk pohon selalu terlihat mesh, sementara pemangkasan bertujuan untuk menjaga bentuk tajuk tanaman.

Pemotesan dilakukan setiap 2 minggu sekali. Caranya mudah, pucuk-pucuk daun yang mulai memudar warna merahnya atau telah menua, langsung dipetik pakai tangan. Pemotesan dilakukan tepat pada ruas cabang, supaya tunas baru bisa segera tumbuh dari ruas tersebut.

Agar pertumbuhan tunas muda merata, posisi tanaman juga harus diatur. Setiap 2 minggu sekali, tanaman diputar. Dengan begitu sinar matahari Bisa mengenci tajuk tanaman secara merata. Kualitas sinar matahari paling bagus terjadi pada pagi hari. Tunas muda banyak tumbuh di bagian tajuk yang terkena sinar matahari pagi.

Sedangkan pemangkasan dilakukan setiap 3 bulan sekali. Bertujuan untuk menjaga kerapian bentuk tajuk. Syzygium yang rajin dipangkas akan memiliki banyak percabangan. Sehingga tajuk menjadi lebih rapat dan jumlah tunas merah yang dihasilkan banyak. Tajuk pun bisa terlihat lebih memerah.

Perawatan rutin lain yang dilakukan yakni pemupukan. Gunakan pupuk N-P-K seimbang. Dosis pemberiannya 1-2 sendok makan untuk setiap pot. Dilakukan setiap 2-3 bulan sekali, beriringan dengan acara pemangkasan. *

Discan dan OCR oleh Sabina dari Idea Garden: 20/11/2008
Read More

Rambatkan Mandevilla

Mandevilla adalah tanaman merambat. la butuh media vertikal untuk tumbuh dengan baik. Paling mudah tentu dengan membeli tiang rambat yang terbuat dari logam. Mandevilla sebaiknya dirambatkan sejak ukurannya masih kecil supaya mudah. Caranya dengan membelitkannya berulang-ulang semakin ke atas. Saat membesar tajuknya akan membelit sendiri ke bang tanpa perlu dibantu.

Kalau mau kreatif dan berhemat, tiang rambat mandevilla bisa dibuat sendiri. Bahannya sederhana, semisal belahan bambu atau batang kayu. Cara pembuatannya juga simpel, cukup menancapkan dua atau empat bilah kecil bambu pada media tanam di sekitar bibir pot mandevila. Selanlutnya ujung atas bilah bambu disatukan lalu diikat dengan tali. Mandevila lantas dibelitkan pada tiang yang telah tertancap.

Perawatan flora berjuluk "melati brazil" ini juga sederhana. Bisa menggunakan campuran media tanam berupa cocopeat dan sekam bakar. Tanaman harus diletakkan di tempat terbuka yang mendapat sinar matahari cukup untuk merangsang munculnya bunga. Penyiraman dilakukan rutin setiap kali media tanam terlihat kering.

Nutrisi harus disuplai dari pupuk. Bisa menggunakan pupuk N-P-K seimbang, semisal perbandingannya 20:20:20. Berikan setiap satu sampai dua minggu sekali. Pemberian nutrisi akan memacu mandevilla tumbuh optimal dan berbunga. Supaya praktis, pupuk dilarutkan dalam air untuk menyiram. Cukup menggunakan pupuk berkonsentrasi sekitar 0,75 gram/liter. Caranya? Larutkan satu sendok teh pupuk ke dalam 10 liter air, lalu gunakan untuk menyiram media.

Discan dan OCR oleh Sabina dari Idea Garden: 20/11/2008
Read More

6 Langkah Mudah Memangkas Tanaman

Semua tanaman butuh dipangkas, terutama tanaman besar macam pohon peneduh. Tujuan utamanya adalah menjaga supaya bentuk tajuknya tetap bagus, sekaligus memacu pertumbuhan. Pemangkasan barangkali hanya tidak diperlukan untuk jenis tanaman kecil yang berfungsi sebagai ground cover.

1. Masa Pemangkasan
Saat yang tepat untuk memangkas adalah saat tanaman mulai terlihat tidak rapi. Semisal, tajuknya sudak mengacak, menjulur ke arah yang tidak diinginkan. Atau menutupi tanaman lain bahkan sampai mengangli jalan. Tentukan cabang yang harus dipotong. Kalau perlu ditandai.

2. Potong Cabang
Pemangkasan bisa dilakukan dengan banyak alat. Mulai dari pisau, gunting pangkas sampai gergaji. Sesuaikan saja dengan besar, tekstur dan kekerasan cabang yang dipotong. Pastikan alat potorg tajom supaya hasilnya bisa terlihat lebih rapi.

3. Potong Pengalang. Batang, cabang dan ranting baru tumbuh ada baiknya juga dirapikan. Buang tajuk baru yang mengganggu, semisal menutup batang utama yang hendak ditonjolkan. Pemotongan sejak kecil memberi keuntungan karna hasilnya lebih rapi.

4. Selain menjaga tetap rapi, pemangkasan juga bisa dilakukan untuk menumbuhkan percabangan baru. Semisal dilakukan untuk membentuk percabangan Pandan Bali dan jenis Dracaena lain. Caranya sangat sederhana, potong "kepala" alias pucuk tanaman. Ada baiknya dibungkus plastik untuk menghindari busuk Sebulan setelah dipangkas, talon cabang baru bakal muncul. Kalau dirasa cabang terlalu banyak bisa dikurangi dengan dipotong.

5. Ada trik lain membentuk cabang Pandan Bali, yakni merompes daun di kepala batang. Cabut daun sampai habis dan patahkan pucuknya. Cara ini lebih aman dari pembusukan. Namun terkadang pucuk batang utama masih bisa tumbuh. Patahkan lagi jika dirasa tak diperlukan.

6. Entres yang jadi limbah jangan dibuang. Terutama untuk tanaman bagus dan mahal macam Pandan Bali dan Plumerla. Potongan batang bisa ditanam dengan cara setek. Gunakan media tanah merah. Bisa dilakukan dalam pot. Namun lebih baik menyetek dengan media yang dibungkus karung goni. Taruh di tempat yang cukup ternaungi tetapi tidak gelap. *

Teks/Foto: Rudi
Sumber: gon ku, Landscape & Nursery di Sawangan.
Read More

Ornamental plant business braces for gloomy days

Two to three years ago, everyone (not only plant lovers and hobbyists) went crazy over Anthurium plants, and many people were willing to spend millions of rupiah just to buy a single plant.

Some of the most desirable species' even had their own unique local names, such as gelombang cinta (waves of love), air mata bunda (mother's tears), kobra (cobra) and pagoda.

But it appears that this trend for Anthurium has come to an end, marked by declining demand and a dropping price.

A hobbyist, Sugianto, admitted that the price of Anthurium species has declined. A high-end variety of Anthurium seeds, called garuda (griffin), used to cost Rp 75,000 (US$6) to Rp 100,000. It is now only Rp 7,000.

The price of a small pot of Anthurium jemanii dropped to between Rp 35,000 and Rp 50,000 from Rp 200,000 previously.

However, he said that such a situation was understandable.

" Sansevieria, Adenium, Bromelia, croton and Aglaonema are still favorites.

"

"It is just a supply and demand issue," Sugianto, 41, said.

"The fall of the price might anger traders but they have no passion for ornamental plants. But for hobbyists like me, it does not really matter."

Slamet Budiarto, operatioal manager of Godongijo (green leaves) Nur-sery, said that nowadays there isn't one specific plant that starts a trend.

"Sansevieria, Adenium, Bromelia, croton and Aglaonema are still favorites. Some hybrids are still expensive just because they are rare," he said.

"A nursery is still a prospective business because it is a hobby," Slamet said.

A nursery owner, Chandra Gunawan Hendarto, said the global economic crisis has had a slight impact on his nursery business.

"These days, people tend to buy staple foods instead of collecting plants. There is a slight decline of plant purchases. I just hope that the condition will get better," Chandra said.

However, another nursery owner, Fathoni, was optimistic about being able to survive.

"The crisis will not restrain plant lovers from buying and collecting ornamental plants. One thing that might change is the quantity," Fathoni said.

"Before the economic crisis, a hobbyist might buy dozens of ornamental plants, while after the crisis, he or she might only buy half that many. But I'm optimistic this business will survive," he said.

Want to get more information about ornamental plants? You can join the following online groups:

- The Indonesian Croton Community

Blog: http:/aksikomunitas.wordpress.com
- Aglonema Indonesia: www.aglonema indonesia.co.nr
- Adeniumania: groups.yahoo.com/group/ADENIUMANIA/
- Sansevieria Indonesia http://tech.groups.yahoo.com/group/sansevieria_id/

List of nurseries:
Godongijo
Jl. Cinangka Raya Km. 10 No. 60, Sawangan, Depok Phone: 021-74710678

Toekang Keboen
Nursery & Shop: Kav. 16, 17 & 18, Pusat Tanaman Hias, BSD CITY, Serpong, Tangerang Phone: 021-70930895 (Flexy Home) - 021-54201926

Bale Kembang Nursery
Perumahan Medang Lestari Blok D 3B No. 84, Tangerang, Banten Phone: 021-70468705

Kampung Pohon
Kavling No. 2 & 4, Kota Deltamas, Cikarang Pusat, Bekasi Phone: 021- 71020099

Read More

Finding fun in growing ornamental plants

Idariani Tahir began to have a passion for ornamental plants since she was a little girl, when she helped her mother plant maidenhair fern (Adiantum cuneatum) at home.

When she grew up, Ida started to collect ornamental indoor plants, like sansevieria, philondendron and anthurium.

She said that she was interested in growing plants which could absorb air pollutants, as she was concerned about the environment.

"I have many outdoor and indoor plants, which can help refresh the air, such as dracaena, dieffenbachia and aglaonema," Idariani, a resident of Bogor in West Java, said.

Sansevieria, for instance, is a special plant because it has a beautiful appearance. It is easy to grow and does not take up too much space.

"You don't need any special skills to grow this kind of plant. You can place it inside your house for a long time. It is also much cheaper than other ornamental plants," she said.

The owner of more than 1,000 pots of various plants said that her collection of exotic ornamental plants kept multiplying as she took part in some plant festivals and got into the nursery business in 2007.

Last year, she, along with co-writer Maloedyn Sitanggang, published a book, 165 Sansevieria Eksklusif (165 Exclusive Sansevieria).

Similar to Idariani's experience, Fathoni's love of ornamental plants grew since he used to help his mother in the garden when he was a child.

"I first took gardening as a hobby, but then I decided to switch it into a business by opening the B'Green Garden nursery last year in Bekasi. We offer many kinds of Sansevieria," said the 39-year-old.

"I prefer to grow Sansevieria because it is beautiful and easy to grow. I also knew from the internet that this plant could absorb pollutants and refresh the air," he said.

Sansevieria, locally known as lidah mertua (mother-in-law's tongue), are mostly found in tropical and subtropical regions in Africa and Asia.

Generally, they are desert plants, and can tolerate drought and dry air, thus making them very suitable for the office and public buildings.

The attraction of Sansevieria lies in the subtle design on the leaves, consisting of vague horizontal bands and stripes, and the differing color on the edge of the leaves.

Most nursery owners in Greater Jakarta do not have an agricultural background, as they started as hobbyists.

Chandra Gunawan Hendarto said he had no idea about ornamental plants when he decided to turn his reptile business into a nursery in 1999.

"I first tried to grow some Adenium by myself, but it did not run smoothly because I mistreated them. I knew nothing about the plant," Chandra, the owner of Godongijo (green leaves) Nursery in Depok, West Java, said.

After two years of running the 2.3-hectare nursery, he hired some agricultural experts to handle the treatment and production.

He now offers many kinds of ornamental plants, such as Adenium, cactus, Euphorbia, Sansevieria, Bromelia, Aglaonema and Philondendron. However, he focuses his business on Adenium.

"*I chose Adenium* because it is relatively easy to grow and has high resistance to vermin. It doesn't take much space either," Chandra, who now has more than 58 varieties of Adenium, said.

His nursery also has an Adenium salon, offering hobbyists the ability to change or mix the color of the flowers.

"If you, for instance, have a pot of red Adenium and want to mix it with another color, we can help you out by applying a grafting method: slicing a part of your plant and replacing it with our collection," he said.

Adenium obesum or Adenium, according to Slamet Budiarto, an agricultural expert at Godongijo, is native to the city Aden in Yemen.

It is an evergreen shrub in tropical climates and requires a sunny location.

Adenium is typically propagated by seed or stem cuttings. The numerous hybrids are spread mainly by grafting onto seedling rootstock.

Chandra said many customers looked for Adenium because it was not boring.

"Adenium does not bloom every season. It is in full bloom only during the dry season. Hobbyists tend to enjoy waiting for the plant to start to bloom. This is the excitement of growing plants," he said.

In addition, he did not want to only offer plants to his customers through his nursery, but also wanted to educate them about the importance of live plants in their homes.

"In developed countries, like the United States or England, it is common to see people put pots of plants in their homes or apartments. They realize that real plants improve air quality," he said.

However, he said many people failed to cultivate ornamental plants properly. "They think that watering the plants is enough to make them grow. They are wrong," he said.

"Many people spray liquid fertilizer, not knowing that spraying it on the back of the leaves would be more effective to grow the plant, since every plant has stomata or mouths in the back of their leaves."

"People should treat the plants the same way they treat their bodies. Just like us, plants need sufficient sunlight and the right *vitamins', which in this case, is fertilizer."

Read More